Musuh Abadi, Plastik

9:50 PM

Seringkali kita merasa tak peduli jika membuang bungkus permen karet berukuran 3 x 2 cm. Pikir kita, pasti bungkusannya akan terurai dengan sendirinya. Kalian salah! Plastik terbuat dari bahan yang sulit terdegradasi oleh alam. Bahan pembuat plastik adalah bahan-bahan yang susah untuk diurai oleh bakteri. Bahan itu adalah akrilik, nilon, polyester, polietilena, polipropilena, dan povinil khlorida.

Produksi keseluruhan plastik selama setengah abad ini sekarang sudah lebih dari satu miliar ton. Itu meliputi ratusan plastik yang berbeda, dengan berbagai permutasi yang melibatkan penambahan bahan-bahan khusus seperti pelentur, pembening, pewarna, pengisi, penguat, dan pengawet terhadap cahaya. Umur masing-masing bisa sangat bervariasi. Sejauh ini, belum ada plastik yang menghilang.

Penggunaan plastik sudah sangat lazim di dunia ini. Bungkusan permen, pulpen, sarung telepon genggam, bahkan lulur mandi pun menggunakan plastik. Bahan-bahan tersebut akan terbawa oleh aliran sungai menuju ke laut. Atau masyarakat memang langsung membuang sampah tersebut ke laut.

Siapa pun pasti pernah melihat polietilena dan plastik-plastik lain berubah menjadi kuning dan regas dan mulai menjadi serpih-serpih setelah lama terjemur di bawah cahaya matahari. Sering, plastik diberi perlakuan dengan aditif untuk menjadikannya lebih tahan ultraviolet; aditif lain dapat menjadikan mereka lebih peka terhadap ultraviolet.

Ada dua masalah yang kita hadapi dengan sampah plastik. Satu diantaranya, plastik memerlukan waktu jauh lebih lama untuk mengalami fotodegradasi dalam air. Di daratan, plastik yang terjemur di bawah cahaya matahari menyerap panas inframerahnya, sehingga menjadi jauh lebih panas daripada udara sekitar. Di laut, selain tetap sejuk karena ada air, ganggang yang membelitnya juga melindungi mereka dari cahaya matahari.

Pernahkah mencoba menengok keadaan di daerah pesisir, dimana plastik pembungkus makanan melayang di air. Bukan hanya satu bungkus tapi ratusan! Bahan-bahan plastik tersebut dibuat dari bahan-bahan berbahaya. Serpih-serpih plastik akan dimakan oleh ikan-ikan kecil. Lalu akan terjadi keberlanjutan, ikan kecil dimakan ikan besar, pada akhirnya manusia yang memakan ikan besar.

Mungkin dosa ini bukan hanya ditanggung oleh anak kita, namun cucu dan cicit kita. Mereka yang akan bekerja keras untuk menghadapi perang terhadap plastik. Bayangkan, penggunaan plastik besar-besaran ini sudah membuat bumi sangat renta. Dimana plastik yang tak bisa diurai akan menimbulkan masalah lingkungan yang sangat menakutkan. Tumpukan plastik yang tak terurai bertebaran dimana-dimana. Masuk ke dalam tubuh kita menjadi zat-zat berbahaya. Dan akhirnya plastik tersebut malah menjadi musuh abadi.

Di Jerman, ketika berbelanja setiap pengunjung tidak akan diberikan plastik. Mereka membiasakan diri untuk membawa tas belanja ramah lingkungan. Berbeda dengan Indonesia yang setiap toko besar, toko kelontong, bahkan tukang sayur di pinggir jalan menggunakan plastik. Kesadaran mereka untuk tidak menggunakan plastik masih minim. Plastik dengan bahan berbahaya memang lebih murah. Dimana per kantong isi 100 lembar dijual dengan harga Rp. 6.000. Namun harga murah saat ini akan dibayar nanti. Ketika bumi sudah penuh dengan sampah plastik. 

Untuk menanggulangi sampah plastik beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.

Terus gimana, dong?. Kita memang tidak mungkin bisa menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi yang paling memungkinkan adalah dengan memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), dan mendaur ulang (recycle). Saya sedang berusah untuk terus menggalakkan DIET PLASTIK. Setiap belanja di warung ataupun pasar, saya selalu membawa tas belanja sendiri. Memang terlihat kaku, tapi paling tidak ada kontribusi sedikit bagi bumi. Untuk poin terakhir, mungkin perlu regulasi dari pemerintah untuk meredam semakin meningkatnya penggunaan plastik. Semoga!


tulisan yang ikut mendukung #World Environmental Day 2014 setiap tanggal 5 Juni.
berikut beberapa tulisan yang sama-sama mendukung #WED2014 #TBI
Dilema Wisata Karimunjawa - Kak Fahmi Anhar

ditulis ulang kembali di Kost Wuring
Kamis, 5 Juni 2014 9:45 Wita

You Might Also Like

0 Komentar Kamu?