Sebuah Perlawanan dari Faqiha dan Kartu Pos Untuknya


Faqiha Rizqina Kamila
Namanya Faqiha Rizqina Kamila tapi saya dan semua keluarga memanggilnya Faqiha. Ia adalah sepupu saya dari pihak Bunda. Saya mengenalnya sebagai anak yang ceria dan cerdas. Beberapa kali ia memenangkan lomba cerdas cermat di sekolahnya. Hitung-hitungannya pun selalu tepat. Tak ayal ia menjadi salah satu bintang di sekolahnya dan di hati kami para sepupunya. 

Rambutnya ikal bergoyang-goyang ketika berlari kesana kemari. Umurnya masih 10 tahun saat ini, tapi kadang ia tampil bak seorang dewasa. Pernah satu kali ia menceramahi saya tentang pentingnya belajar. Betapa sok taunya ia. Tak lama ia pun mengenakan kacamata. Katanya karena kebanyakan membaca. Memang ia termasuk anak yang pandai.

Subuh Sendirian di Pantai Pintu Kota Ambon

sunrise di Pintu Kota
Jang ose coba-coba ke Pintu Kota sendiri, bahaya,” ujar Maman di malam hari sebelum saya berangkat ke Pintu Kota. 

Memang perjalanan ini tergolong nekat. Karena saya pernah mendengar cerita beberapa orang bahwa sunrise di Pantai Pintu Kota sangat memanjakan mata. Saya pun melontarkan ide tersebut ke Maman, seorang teman yang sudah tinggal lama di Ambon. Tapi bukannya mendapat saran, saya malah dimarahi dan diminta untuk melupakan ide gila itu. Haha. 

Persiapan Pernikahan Beda Provinsi dan Segala Printilannya #WeddingAriAd


eaaaa! sah!

Tulisan ini harusnya sudah publish ketika bulan Desember, tapi berhubung saya langsung berangkat ke Pulau Buru untuk tugas, sehingga saya baru bisa menyelesaikan tulisan ini sekarang, di bulan Februari. 

Umur pernikahan saya baru seumur popcorn yang dimasak. Belum banyak cerita, jadi saya menceritakan bagaimana keseruan saya mengurus pernikahan. Budget pernikahan saya tidak terlalu besar, sehingga saya dan keluarga memikirkan cara yang paling murah dan mudah. Heheh.  Fyi, saya mengurus pernikahan ini hanya 3 bulan setelah lamaran. 2 bulan untuk hunting-hunting tempat dan cari seserahan, 1 bulan berikutnya untuk mengurus berkas dan kelengkapan. Saya akan menceritakan hal-hal penting yang dibutuhkan untuk menikah. 

Menembus Kabut Naik Mobil Hardtop di Desa Sukawana

kabut gelap bagaikan Lord Voldemort datang

Apa sih Hardtop itu? Bagi sebagian orang, pasti mengenal mobil Hardtop dengan sebutan mobil Offroad. Hahah. Sama juga dengan saya. Sejak pertama kali melihat mobil yang sangat maskulin itu, saya menyebutnya dengan sebutan mobil offroad, ternyata saya salah. Mobil itu dinamakan mobil jenis Hardtop, sedangkan olahraganya Offroad. Selama ini saya selalu melihat olahraga seperti Offroad hanya dari kejauhan. Sepertinya agak sulit untuk melakukan olahraga tersebut untuk traveler berbudget terbatas seperti saya. “pasti mahal deh”, pikirku. Jadi saya hanya berharap bisa mencicipinya suatu hari. Dan Alhamdulillah dapat kesempatan untuk offroad gratis dari pihak Trizara Resort. 
Glamping di Trizara Resort selama 3 hari, benar-benar berkah bagi saya. Karena saya bertemu dengan banyak blogger keren dan mencicipi kegiatan outdoor yang belum pernah saya coba. Tempat ini menyediakan banyak outdoor activities yang menyenangkan, dan kami berkesempatan mencicipi tiga olahraga yang seru. Pertama archery war, paintball dan offroad. Dari ketiganya, saya belum pernah mencoba paintball dan offroad. Karena itu saya senang sekali melihat jadwal yang diberikan oleh Kak Tracy. 

Mencicipi Glamping di Trizara Resort

pemandangan kamar saya dari Netra
Apa itu Glamping? Pasti pertanyaan tersebut yang saat ini teman-teman tanyakan di dalam hati. Kemudian mulai mencari kata kunci di dalam Mbah Google, mengetikkan kata “Apa itu Glamping?” di dalam kotak pencarian. Heheh. Hal itu yang juga saya lakukan ketika mulai menemukan kata Glamping. Hahah. Jadi Glamping bisa diartikan sebagai Glamorous Camping. Sebuah fenomena baru di saat ini. Dan ada beberapa tempat yang menyediakan tempat untuk bisa melakukan Glamorous Camping, salah satunya Trizara Resort yang terletak di Lembang, Bandung. 

Nah, Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk datang ke Trizara Resort selama 3 hari 2 malam. Saya sempat mencari tahu tempat tersebut dari internet dan menemukan fakta bahwa Trizara Resort adalah tempat cocok untuk bulan madu bagi pasangan baru. #ehm #kodekeras Lokasinya yang berada di daerah perbukitan Lembang, membuat tempat ini sangat nyaman dan dingin. 

Sunrise View from Tatanggo Hills, Namlea

Sunrise di Bukit Tatanggo!
Sedari pagi kami berusaha menyelesaikan tugas sebelum beranjak dari penginapan. Karena pagi ini adalah pagi terakhir, saya berusaha menghabiskannya untuk menjelajah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 WIT. Sebenarnya sudah agak terlambat untuk melihat sunrise, tapi kami berdua tetap memaksa untuk menuju Bukit Tatanggo. Bukit ini masuk dalam daftar wisata andalan Pulau Buru, menurut website resmi Kabupaten Buru. 

Perjalanan ke Bukit Tatanggo tidak membutuhkan waktu lama. Dari daerah Simpang Lima jika menggunakan sepeda motor hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Kami memberhentikan ojek di depan BNI Namlea, langit sudah berwarna pink saat itu. Kami bergegas. Semoga masih sempat melihat mentari merangkak naik. Tukang ojek pun segera meningkatkan kecepatan. 

Sweet Escape at Lala Beach


Sunrise di Pantai Lala
Matahari masih belum nampak, saya bergegas menyiapkan kamera dan air minum. Pagi ini adalah dua hari terakhir sebelum saya meninggalkan Pulau Buru. Karena itu saya tak ingin menyiakan kesempatan. Menurut informasi dari seorang teman, salah satu spot bagus untuk melihat matahari terbit adalah Pantai Lala. Nah, atas rekomendasi inilah saya pun dan kedua teman saya segera mencari ojek untuk mengangkut kami ke Desa Lala. Dalam pemahaman kami bertiga, pantai Lala terletak di Desa Lala. 

Kami pun menyetop ojek, saat itu waktu masih menunjukkan pukul 5.40 WIT. Langit masih gelap, bintang masih tampak dan bulan juga menyembul di balik awan. Kami mengarahkan tukang ojek untuk pergi ke Desa Lala, tapi parahnya kami bertiga tidak tau patokan Pantai Lala yang bagus. Perjalanan dari daerah Simpang Lima, tempat kami menginap hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di Desa Lala, jika menggunakan sepeda motor. Akhirnya kami diturunkan di pantai yang berdekatan dengan rumah warga.

Resep Umur Panjang dari Nenek Berumur 100 tahun di Wamlana

Nenek Maryam
Saya bersyukur dapat bertemu dengan Nenek Maryam Salasiwa, saya memanggilnya Nenek saja. Beliau adalah ibu dari seorang Bapak Ide, mantan nelayan yang rumahnya kami tempati menginap selama satu minggu. Di Desa Wamlana, saya belajar banyak dari Nenek Ima yang dipercaya berumur lebih dari 100 tahun, saat Belanda dan Jepang masih berkeliaran di Pulau Buru. Ia pun masih bisa menggunakan bahasa Jepang sedikit-sedikit. Pun bahasa Belanda yang ia pelajari dari orang Belanda yang kerap menyambangi desa-desa di waktu lampau. 

Ia lahir di sebuah desa kecil bernama Waipoti sekitar tahun 1900-an awal. Ia tak punya catatan kelahiran, tapi ia mengingat segala hal ketika Belanda masih menginjakkan kakinya di Pulau Buru. Ia tumbuh menjadi seorang gadis dan akhirnya menikah di desa tersebut. Karena suaminya adalah orang Wamlana, ia pun diboyong pindah ke desa Wamlana yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Waipotih. 

Peluh Keringat Pencari Daun Kayu Putih

pekerja memasukkan daun kayu putih di wadah memasak
Pulau Buru identik dengan minyak kayu putih. Sejarah minyak kayu putih sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda disini. Saya mengunjungi sebuah ketel, sebutan untuk tempat penyulingan daun kayu putih untuk menjadi minyak kayu putih. Lokasi ketel tersebut di Desa Wamlana, sebuah desa yang jaraknya kurang lebih 100 kilometer dari Kota Namlea. 

Setiap pagi para pekerja pencari daun kaun putih sudah siap dengan keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di saat subuh mereka suda menyiapkan tongkat untuk menarik batang kayu putih yang dirasa tinggi. Ada dua cara bagi mereka untuk mendapatkan daun kayu putih. Cara pertama dengan menarik daun dari ujung batang. Cara kedua adalah memotong batang kayu putih yang dirasa sudah tinggi dan daun ditarik seperti cara pertama. Tapi cara kedua ini bisa dikatakan tidak ramah lingkungan karena harus mematahkan ranting. Selain itu para pencari juga tidak selalu bergerak ke tempat yang sama. Ada jeda waktu hingga daun kayu putih bisa dipanen. 

Kisah Gila 2.5 Tahun Bersama Asus Zenfone 5 #Part 1

My Asus di Magelang. :)
Ketika saya akhirnya memutuskan untuk melabuhkan hati pada Asus Zenfone 5 itu penuh dengan pertimbangan. Pertama adalah budget. Uang di tabungan saya pada waktu hanya sekitar 2.5 juta rupiah. Hasil menabung setelah 6 bulan bekerja, saya pun membeli sebuah hp di bilangan Jakarta. Harga Asus Zenfone 5 saat itu adalah 2,4 juta rupiah. “Masuk dalam budget,” pikirku waktu itu. 

Kedua, faktor ketahanan HP. Saya menggunakan laptop Asus A455 L berwarna biru (sekarang merah). Saya melihat bahwa laptop Asus yang saya gunakan tahan banting, walapun saya meletakkan laptop asal-asalan, ia tak pernah rewel. Jadilah saya memperhitungkan HP Asus sebagai pilihan pertama. Dan benar saja, ia termasuk tahan banting. Sudah beberapa puluh kali ia jatuh berdebam di tanah, di batu, di lantai dan di atas kasur, tapi ia tak retak. Ia tetap kokoh. 

Memilih Keputusan di Seperempat Abad

keep smile, dlien!
Biarlah. . .
Biarlah semua
Berlalu seperti waktu
Tak perlu kau tangisi
Semuanya akan pergi

Dan itulah penggalan lirik lagu yang menjadi lagu terfavorit saya selama menjelajah di Pulau Buru. Lagu Andra and The Backbone berjudul Perih. Sebuah lagu yang mengajarkan bahwa semua keputusan yang kita ambil akan berlalu. Seberapun perih nya hal tersebut, semua akan berlalu dan tak perlu untuk ditangisi. Sehingga saya pun berusaha merefleksikan apa yang sudah saya lakukan selama seperempat abad sejak saya lahir.

Banyak kejadian akhir-akhir ini yang membuat saya begitu banyak berfikir. Perjalanan panjang di umur ke 25 banyak keputusan-keputusan besar yang saya buat. 

Para Pahlawan Keluarga di Pulau Buru



ibu-ibu dan anak-anak membantu para nelayan untuk mendorong kapal

Menjelajah di Pulau Buru bagian utara membuat saya semakin kagum dengan mahluk Tuhan bernama Ibu. Mereka adalah para pejuang keluarga selain Bapak sebagai kepala keluarga. Di saat para kepala keluarga berjuang mencari ikan agar bisa mengepulkan asap dapur, para ibu ikut membantu sebisa mereka. Ikut masuk menjadi penopang ekonomi keluarga dan menjadi sumber kekuatan seluruh anaknya. 

Di saat musim ikan tuna sedang ramai, para ibu membantu mendorong perahu suami mereka ke laut. Doa pun teriring bersama keberangkatan kapal di pagi buta. Mereka sudah mempersiapkan bekal makan siang dan sebotol besar air segar agar sang suami bisa mencari ikan dengan tenang tanpa khawatir takut lapar. Begitupun di saat suami pulang dan mendaratkan kapal di pantai. Para istri nelayan akan mendorong kapal ke tambatan yang sudah mereka sediakan. 

Cerita Menghitung Hari Menjelang Akad

hi Arif! :D
Adlien, jika kamu membaca ini di tahun 2041 maka kamu telah melewati 25 tahun mengarungi pernikahan bersama laki-laki yang kamu pilih. Seorang laki-laki yang kamu pilih selama masa pencarian, setelah sempat singgah di beberapa hati. Laki-laki yang akan melindungi kamu apapun keadaannya dan siap menghadapi segala resikonya dalam mencintaimu.

Adlien, jika ia mencintaimu hingga saat ini, di umur pernikahan kalian yang ke-25, maka rayakanlah hari ini. Belilah gulali berwarna merah muda dan semangkuk coto dengan 3 irisan jeruk nipis. Mengenang masa-masa indah kalian berdua. Ketika masih menjejak di Kota Anging Mamiri, sebuah kota yang akhirnya mempertemukan kalian. Kisah di Pantai Losari pasti tidak akan kalian lupakan.