Sunrise View from Tatanggo Hills, Namlea

Sunrise di Bukit Tatanggo!
Sedari pagi kami berusaha menyelesaikan tugas sebelum beranjak dari penginapan. Karena pagi ini adalah pagi terakhir, saya berusaha menghabiskannya untuk menjelajah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 WIT. Sebenarnya sudah agak terlambat untuk melihat sunrise, tapi kami berdua tetap memaksa untuk menuju Bukit Tatanggo. Bukit ini masuk dalam daftar wisata andalan Pulau Buru, menurut website resmi Kabupaten Buru. 

Perjalanan ke Bukit Tatanggo tidak membutuhkan waktu lama. Dari daerah Simpang Lima jika menggunakan sepeda motor hanya menghabiskan waktu sekitar 5 menit. Kami memberhentikan ojek di depan BNI Namlea, langit sudah berwarna pink saat itu. Kami bergegas. Semoga masih sempat melihat mentari merangkak naik. Tukang ojek pun segera meningkatkan kecepatan. 

Sweet Escape at Lala Beach


Sunrise di Pantai Lala
Matahari masih belum nampak, saya bergegas menyiapkan kamera dan air minum. Pagi ini adalah dua hari terakhir sebelum saya meninggalkan Pulau Buru. Karena itu saya tak ingin menyiakan kesempatan. Menurut informasi dari seorang teman, salah satu spot bagus untuk melihat matahari terbit adalah Pantai Lala. Nah, atas rekomendasi inilah saya pun dan kedua teman saya segera mencari ojek untuk mengangkut kami ke Desa Lala. Dalam pemahaman kami bertiga, pantai Lala terletak di Desa Lala. 

Kami pun menyetop ojek, saat itu waktu masih menunjukkan pukul 5.40 WIT. Langit masih gelap, bintang masih tampak dan bulan juga menyembul di balik awan. Kami mengarahkan tukang ojek untuk pergi ke Desa Lala, tapi parahnya kami bertiga tidak tau patokan Pantai Lala yang bagus. Perjalanan dari daerah Simpang Lima, tempat kami menginap hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di Desa Lala, jika menggunakan sepeda motor. Akhirnya kami diturunkan di pantai yang berdekatan dengan rumah warga.

Resep Umur Panjang dari Nenek Berumur 100 tahun di Wamlana

Nenek Maryam
Saya bersyukur dapat bertemu dengan Nenek Maryam Salasiwa, saya memanggilnya Nenek saja. Beliau adalah ibu dari seorang Bapak Ide, mantan nelayan yang rumahnya kami tempati menginap selama satu minggu. Di Desa Wamlana, saya belajar banyak dari Nenek Ima yang dipercaya berumur lebih dari 100 tahun, saat Belanda dan Jepang masih berkeliaran di Pulau Buru. Ia pun masih bisa menggunakan bahasa Jepang sedikit-sedikit. Pun bahasa Belanda yang ia pelajari dari orang Belanda yang kerap menyambangi desa-desa di waktu lampau. 

Ia lahir di sebuah desa kecil bernama Waipoti sekitar tahun 1900-an awal. Ia tak punya catatan kelahiran, tapi ia mengingat segala hal ketika Belanda masih menginjakkan kakinya di Pulau Buru. Ia tumbuh menjadi seorang gadis dan akhirnya menikah di desa tersebut. Karena suaminya adalah orang Wamlana, ia pun diboyong pindah ke desa Wamlana yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Waipotih. 

Peluh Keringat Pencari Daun Kayu Putih

pekerja memasukkan daun kayu putih di wadah memasak
Pulau Buru identik dengan minyak kayu putih. Sejarah minyak kayu putih sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda disini. Saya mengunjungi sebuah ketel, sebutan untuk tempat penyulingan daun kayu putih untuk menjadi minyak kayu putih. Lokasi ketel tersebut di Desa Wamlana, sebuah desa yang jaraknya kurang lebih 100 kilometer dari Kota Namlea. 

Setiap pagi para pekerja pencari daun kaun putih sudah siap dengan keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di saat subuh mereka suda menyiapkan tongkat untuk menarik batang kayu putih yang dirasa tinggi. Ada dua cara bagi mereka untuk mendapatkan daun kayu putih. Cara pertama dengan menarik daun dari ujung batang. Cara kedua adalah memotong batang kayu putih yang dirasa sudah tinggi dan daun ditarik seperti cara pertama. Tapi cara kedua ini bisa dikatakan tidak ramah lingkungan karena harus mematahkan ranting. Selain itu para pencari juga tidak selalu bergerak ke tempat yang sama. Ada jeda waktu hingga daun kayu putih bisa dipanen. 

Kisah Gila 2.5 Tahun Bersama Asus Zenfone 5 #Part 1

My Asus di Magelang. :)
Ketika saya akhirnya memutuskan untuk melabuhkan hati pada Asus Zenfone 5 itu penuh dengan pertimbangan. Pertama adalah budget. Uang di tabungan saya pada waktu hanya sekitar 2.5 juta rupiah. Hasil menabung setelah 6 bulan bekerja, saya pun membeli sebuah hp di bilangan Jakarta. Harga Asus Zenfone 5 saat itu adalah 2,4 juta rupiah. “Masuk dalam budget,” pikirku waktu itu. 

Kedua, faktor ketahanan HP. Saya menggunakan laptop Asus A455 L berwarna biru (sekarang merah). Saya melihat bahwa laptop Asus yang saya gunakan tahan banting, walapun saya meletakkan laptop asal-asalan, ia tak pernah rewel. Jadilah saya memperhitungkan HP Asus sebagai pilihan pertama. Dan benar saja, ia termasuk tahan banting. Sudah beberapa puluh kali ia jatuh berdebam di tanah, di batu, di lantai dan di atas kasur, tapi ia tak retak. Ia tetap kokoh. 

Memilih Keputusan di Seperempat Abad


keep smile, dlien!

Biarlah. . .
Biarlah semua
Berlalu seperti waktu
Tak perlu kau tangisi
Semuanya akan pergi

Dan itulah penggalan lirik lagu yang menjadi lagu terfavorit saya selama menjelajah di Pulau Buru. Lagu Andra and The Backbone berjudul Perih. Sebuah lagu yang mengajarkan bahwa semua keputusan yang kita ambil akan berlalu. Seberapun perih nya hal tersebut, semua akan berlalu dan tak perlu untuk ditangisi. Sehingga saya pun berusaha merefleksikan apa yang sudah saya lakukan selama seperempat abad sejak saya lahir.

Banyak kejadian akhir-akhir ini yang membuat saya begitu banyak berfikir. Perjalanan panjang di umur ke 25 banyak keputusan-keputusan besar yang saya buat. 

Para Pahlawan Keluarga di Pulau Buru



ibu-ibu dan anak-anak membantu para nelayan untuk mendorong kapal

Menjelajah di Pulau Buru bagian utara membuat saya semakin kagum dengan mahluk Tuhan bernama Ibu. Mereka adalah para pejuang keluarga selain Bapak sebagai kepala keluarga. Di saat para kepala keluarga berjuang mencari ikan agar bisa mengepulkan asap dapur, para ibu ikut membantu sebisa mereka. Ikut masuk menjadi penopang ekonomi keluarga dan menjadi sumber kekuatan seluruh anaknya. 

Di saat musim ikan tuna sedang ramai, para ibu membantu mendorong perahu suami mereka ke laut. Doa pun teriring bersama keberangkatan kapal di pagi buta. Mereka sudah mempersiapkan bekal makan siang dan sebotol besar air segar agar sang suami bisa mencari ikan dengan tenang tanpa khawatir takut lapar. Begitupun di saat suami pulang dan mendaratkan kapal di pantai. Para istri nelayan akan mendorong kapal ke tambatan yang sudah mereka sediakan. 

Cerita Menghitung Hari Menjelang Akad

hi Arif! :D
Adlien, jika kamu membaca ini di tahun 2041 maka kamu telah melewati 25 tahun mengarungi pernikahan bersama laki-laki yang kamu pilih. Seorang laki-laki yang kamu pilih selama masa pencarian, setelah sempat singgah di beberapa hati. Laki-laki yang akan melindungi kamu apapun keadaannya dan siap menghadapi segala resikonya dalam mencintaimu.

Adlien, jika ia mencintaimu hingga saat ini, di umur pernikahan kalian yang ke-25, maka rayakanlah hari ini. Belilah gulali berwarna merah muda dan semangkuk coto dengan 3 irisan jeruk nipis. Mengenang masa-masa indah kalian berdua. Ketika masih menjejak di Kota Anging Mamiri, sebuah kota yang akhirnya mempertemukan kalian. Kisah di Pantai Losari pasti tidak akan kalian lupakan.

Fungsi Blog : Menyimpan Kenangan, Sampai Jalan-jalan Gratis

yes!
Kebiasaan menulis diari sudah muncul sejak saya duduk di bangku SMP. Saat itu buku tebal bergambar beruang menjadi teman setia sebelum tidur. Diari turunan dari Bunda yang sudah tak digunakan sebagai catatan hariannya, selalu saya isi dengan curahan hati tentang menyongsong hari. Kegiatan dari bangun pagi, perjalanan ke sekolah, kegiatan di sekolah, hingga tertidur selalu dicatat. 

Petualangan setiap sore di kampung pun menjadi catatan rutin di buku harian. Mulai dari mencari kepiting di sisi sawah yang sedang menguning atau bermain lumpur di kampung sebelah. Belum lagi adegan adu jotos dengan tetangga rumah yang selalu mengusik. Perjalanan mencari seekor buaya di sungai kecil atau pencarian kami yang terkadang aneh-aneh dan berbau klenik.

Mengingat Setahun di TEST English School


I speak scholarship! :)

If you don’t design your own life plan, chances are you’ll fall into someone else’s plan. And guess what they have planned for you? Not much... –Jim Rohn-
We Speak Scholarship adalah motto yang selalu digaungkan setiap hari. Setelah berdoa sebelum belajar pagi, mantra itu wajib dirapal semua pemburu beasiswa. Semua memiliki energi positif yang sama. ‘Satu frekuensi’ istilah kerennya. Rekaman ingatan mulai dari pagi hari dibangunkan oleh teman sekamar, kemudian bergegas mengantri kamar mandi, masuk ke dalam ruangan kelas yang berukuran 4 x 5, mengambil kertas jawaban IELTS, kemudian mulai menjawab soal-soal IELTS. Itu adalah aktivitas wajib di pagi hari. Rutinitas yang akhirnya menjadi bagian dari kisahku untuk mendapatkan beasiswa LPDP. 

Sepiring Teripang Tumis di Bumi Flores

Hewan ini dikenal karena masuk dalam filum Echinodermata yang sedang menjadi primadona ekspor di Indonesia. Hewan ini menjadi salah satu top ekspor hewan laut ke luar negeri. Namanya Teripang, genusnya Holoturia sp. ini memiliki rasa yang lezat juga memiliki khasiat mujarab untuk obat, karena kandungan asam amino esensialnya yang lengkap. Harga teripang di pasar luar negeri mencapai 34 juta per kilogramnya. 

Secara tradisional, teripang sudah digunakan sebagai obat tradisional di Cina sejak ribuan tahun silam. Teripang sebagai obat berkhasiat mengobat penyakit sirosis hati, mioma dan segala penyakit yang menyebabkan pengerasan dan pembengkakan organ tubuh. Kandungan kolagen, MPS (mucopolisacarida), EPA dan DHA yang tinggi menjadi rahasia dibalik kesaktian teripang dalam menyembuhkan penyakit tersebut. Tak heran jika teripang menjadi salah satu hewan laut yang berpotensi besar menghasilkan devisa.

Aneka Kuliner Berbahan Pisang dari Sulawesi

pisang epe (sumber : jendelakuliner.com)
Tulisan ini adalah kenang mengenang bagaimana Sulawesi memiliki tempat tersendiri di dalam hati saya. Salah satunya dari sisi kuliner. Beberapa kuliner khas Sulawesi tidak pernah saya temukan sebelumnya di Pulau Jawa. Dan saya pun mendapuk diri saya sebagai salah satu pecinta Sulawesi garis keras. Hahah. Pisang jadi bahasan saya kali ini. Ada apa aja ya? :)