Tahap-tahap Menggapai Kampus Impian


kampus idaman. bismillah..
Tulisan ini saya buat untuk memberikan sedikit gambaran mengenai pencarian kampus idaman di luar negeri. Saya mencoba mendaftar di Dalhousie University, Canada. Kampus yang terletak di Halifax, ibukota Nova Scotia, salah satu provinsi di Kanada. Pilihan saya jatuh pada jurusan Marine Management di Faculty of Science. Ia masuk dalam 200 ranking kelas dunia. Alasannya sederhana, karena disana tidak ada pelajaran matematika. Haha. Selain itu saya tertarik dengan beberapa mata kuliahnya mengenai Manusia dan Kebudayaan (People and Culture), Marine Management Skill Development, Contemporary Issues in Ocean and Coastal Management dan Community Based Co-Management. Mata kuliah yang sudah saya temukan masalahnya selama bekerja di lapangan. Makanya saya langsung jatuh cinta sama jurusannya. hehe.

Menelusuri Dusun Pasir Madang, Tenjo

Anak-anak di Dusun Pasir Madang, Tenjo, Kab. Bogor
Matahari sudah mulai naik ke peraduannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WIB. Telpon berdering dua kali. Nama Renita muncul di layar handphone. Ia mengingatkan untuk hadir tepat waktu. Pagi itu, kami Tim Menyapa Indonesia dari PK-69 berjanji untuk bertemu di Stasiun Sudimara. 

Apa sih Menyapa Indonesia itu? Kegiatan yang diadakan oleh Awardee beasiswa LPDP setiap angkatan. Kontribusi yang bisa diberikan langsung ke masyarakat entah dalam bentuk kegiatan pembangunan, pemeriksaan kesehatan, pembangunan rumah baca, dan lain-lain. Tapi yang harus diingat, setiap daerah memiliki masalah dan membutuhkan solusi yang berbeda. Karena itu, kami melakukan Survey ke Dusun Pasir Madang. Maka ini adalah perjalanan pertama dan menjadi tantangan bagi kami.

Persiapan Seleksi Wawancara, LGD dan Esai LPDP (2)

bingung mau masukkin foto apa. hahaha. my little family. :)
Setelah saya menjelaskan tentang proses seleksi wawancara, saya akan menjelaskan sedikit tips dan trik dalam melaksanakan seleksi Leaderless Group Discussion (LGD) dan Essay on The Spot.Kedua sesi ini memiliki porsi penilaian 40% untuk menentukan kelulusan kamu mendapatkan beasiswa LPDP. Saya akan menjelaskan tips dan trik sebelum dan pada saat hari pelaksanaan LGD. Setiap awardee mempunyai tips dan trik masing-masing, semakin banyak kalian membaca dan bertanya, semakin bagus untuk menambah pengalaman. :)

Persiapan Seleksi Wawancara, LGD dan Esai LPDP (1)


keluarga Perwakilan 62-69 Love them ;)
SELAMAT!!
Selamat buat teman-teman yang telah lulus dalam tahap seleksi berkas beasiswa LPDP. Nah, sekarang kalian harus mempersiapkan diri untuk lolos di tahap selanjutnya. Saya akan mencoba memberikan sedikit gambaran tentang seleksi kedua ini. 

Seleksi kedua terdiri dari tiga tahapan yaitu wawancara bersama reviewer LPDP, Leaderless Group Discussion (LGD) dan Essay on The Spot. Ketiga tahap ini memiliki bobot yang berbeda setiap item nya. Dari 100 %, sesi wawancara bersama reviewer memiliki nilai yang lebih tinggi daripada dua sesi lainnya. Saya akan mulai menjelaskan sesi wawancara terlebih dahulu ya. 

Menjelajah Pulau Terdepan Indonesia, Sangihe

menikmati senja di pelabuhan terapung Sangihe
Mendengar kata Sangihe, ingatan saya segera terlempar di sebuah gugusan pulau di ujung utara Indonesia. Berbatasan langsung dengan Filipina, membuat pulau ini termasuk dalam deretan pulau-pulau terdepan Nusantara. Sangihe (namun biasa dibaca sebagai Sanger) merupakan pulau yang dihuni oleh sekitar 129.609 jiwa tersebar di 76 pulau. Sedangkan 79 pulau lainnya masih berupa daratan kosong. 
mercusuar di kota Tahuna

Sangihe merupakan sebuah kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate di masa lampau sebelum akhirnya diserahkan ke VOC pada tahun 1677. Dalam beberapa catatan lain, Sangihe disebut sebagai Nusa Utara. Menurut sejarah, Sangihe dan Talaud pernah menjadi konsentrasi wilayah bagi pasukan Majapahit sekitar tahun 1350 hingga 1365. (budayaindonesia.org)

Langkah Awal Mendaftar Beasiswa LPDP

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sumber : ft.ugm.ac.id
Saya berupaya menuliskan apa saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan beasiswa yang saat ini saya dapatkan. Alhamdulillah. 

Saat ini saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu Awardee atau penerima dana Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari LPDP. Apa itu LPDP? LPDP adalah singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, sebuah lembaga yang mengelola dana pendidikan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) untuk melanjutkan pendidikan Master maupun Doctoral. Pelajari tentang LPDP disini

Beasiswa Pendidikan Indonesia menyediakan dana full bagi WNI yang diterima, entah itu kuliah ke Luar Negeri (LN) ataupun Dalam Negeri (DN). Semua biaya berupa transportasi, akomodasi, biaya kuliah, hingga biaya penelitian akan didanai oleh LPDP. Selain itu LPDP menyediakan jaringan (network) untuk penerima membangun Indonesia. Salah satu poin beasiswa ini adalah : bersedia untuk kembali ke Indonesia setelah masa studi. Jadi para penerima beasiswa ini akan pulang untuk membangun Indonesia dengan caranya masing-masing. Tagih mereka dan saya untuk melakukan sesuatu bermanfaat setelah pulang, karena ini adalah uang rakyat. Inshaa Allah.

Kisah Adlien Untuk Menjadi Awardee LPDP


foto diambil di Pantai Kedungtumpang, Tulungagung, Jatim 24 Januari 2016

Saya mengambil foto ini jauh sebelum saya dinyatakan lolos sebagai salah satu Awardee LPDP. Mempersiapkan diri dengan berbagai kemungkinan adalah hal yang saya pelajari dalam mendapatkan beasiswa LPDP. Banyak hal yang saya lakukan sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri pada Periode 1 bulan Januari. Saya sudah tes TOEFL selama 6 kali dalam kurun waktu setahun sebelum akhirnya mendapatkan nilai di atas 550. Angka yang saya dapatkan awalnya hanya berkisar 518 - 530. Setelah mempelajari TOEFL di TEST English School, pada tes TOEFL terakhir saya berhasil mendapatkan angka diatas 550. 

Pada saat tes terakhir, lembaga tes TOEFL yang saya ikuti ternyata baru bisa mengeluarkan sertifikat pada tanggal 20 Januari 2016. Bertepatan dengan tutupnya pendaftaran LPDP Periode 1. Saya sudah hampir menyerah pada saat itu. "Ah, coba saja di periode kedua, sertifikat TOEFL ini gak akan keluar pada waktu yang tepat," kata saya dalam hati. Namun Allah SWT berkehendak lain. Sertifikat TOEFL dikirim dalam bentuk soft copy pada sore hari. Segera setelahnya, saya langsung mengedit esai-esai saya dan mengirimkannya. Saya ingat sekali, jam tangan sudah menunjukkan pukul 20.54 WIB. Alhamdulillah, server tidak down pada saat itu. Padahal di periode sebelumnya, jika mendaftar di detik-detik terakhir, server seringkali down.

Selama menunggu pengumuman LPDP tahap pertama, saya mempersiapkan diri. Saya banyak bertanya kepada teman-teman yang sudah menjadi Awardee LPDP, baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya bertanya tentang attitude apa yang harus ditunjukan saat wawancara, pertanyaan apakah yang harus saya waspadai nantinya, dan lain sebagainya. Jurnal-jurnal ilmiah tentang masalah Kelautan dan Perikanan saya baca. Selain itu saya banyak membaca artikel dan menonton video tentang Kampus tujuan saya, Dalhousie University. Saya mencoba meresapi bagaimana kehidupan mahasiswa di Dalhousie University. Sebisa mungkin saya merasakan keadaan dan tantangan apa yang mungkin saya dapatkan selama kuliah disana. Saya sampai pernah menuliskan keinginan saya untuk bersekolah disana dalam blog saya. I have a dream to go to Canada

Ternyata jalan tak semulus yang saya duga. Surat rekomendasi yang diberikan oleh orang-orang ternyata tercecer entah kemana. Saya pun mulai menghubungi orang-orang yang memberikan rekomendasi tersebut. Membuat repot orang-orang tersebut karena keteledoran saya sendiri. Alhamdulillah, surat rekomendasi dikirim tepat waktu. 

Sebelum waktu wawancara, saya sempat berlatih satu kali bersama salah satu Awardee di bilangan Jakarta. Kami berusaha membuat aura tertekan persis seperti ketika wawancara LPDP. Takut? Khawatir? Deg-degan? Semua sudah bercampur jadi satu. Tapi saat itu saya sudah memantapkan diri, apapun yang terjadi saat proses seleksi tahap akhir, saya akan melakukan yang terbaik. 

Ketika jadwal keluar, saya berusaha menghubungi teman-teman yang menjadi kelompok Leaderless Group Disscussion (LGD) saya. Harapannya adalah saya bisa lebih mengenal teman-teman yang akan menjadi partner dalam proses diskusi nanti. Selain itu kami melakukan simulasi LGD di sebuah mall Jakarta. Tak hanya itu, saya juga melatih kemampuan writing saya. Jujur, kemampuan menulis saya masih sangat kurang. Karena itu saya lebih banyak membaca artikel apa saja dalam bahasa Inggris. Apapun. Bahkan sampai pada masalah tentang s*x education. haha. Selain itu saya juga menonton banyak video di Youtube tentang terobosan-terobosan baru dalam dunia Kelautan dan Perikanan. 

Hari itu pun datang, Leaderless Group Disscussion bisa dikatakan sangat buruk. Karena kelompok kami sangat kaku dan tidak berwarna. Si Psikolog pun sampai sulit menentukan, siapa yang dominan dan mana yang tidak. Ketika sesi Essay on the spot saya mendapatkan tema tentang sampah. Alhamdulillah, tema nya bisa saya kuasai. Selama 20 menit saya tuliskan apa saja yang ada di dalam pikiran. Entah itu sesuai grammar atau tidak. Target saya adalah membuat tulisan yang memiliki pembuka – body paragraph – closing. Itu saja. 

Malam harinya saya berusaha melupakan apa yang sudah saya lakukan pada hari itu. Saya harus fokus pada esok hari. Apapun yang sudah saya lakukan tadi pagi, sudah menjadi masa lalu. Sekarang fokus pada masa depan!

Keesokan harinya pada jadwal interview. Saya sudah membawa tas ransel besar. Karena pada hari itu, saya akan berangkat ke Kamboja untuk mengikuti sebuah kegiatan disana. Saya mulai dengan menjabat tangan mereka dan memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris. Setelah itu sang interviewer pun mulai menjelaskan proses interview. Alhamdulillah. Saya bisa menjelaskan alasan kenapa saya ingin melanjutkan studi di Dalhousie University. Argumen-argumen saya lontarkan bahwa saya ingin berkontribusi dalam pembuatan sertifikasi eco-label fisheries di masa depan. Ternyata salah satu interviewer adalah dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliau sangat paham dengan study yang ingin saya ambil. Beberapa kali ia mematahkan argumen saya. Setiap saya punya ide tentang perikanan masa depan, ia langsung memotong “Ah, kalau begitu sudah gak mungkin. Kamu gak tau bagaimana mekanisme dalam pemerintah. Pelajari dulu, jangan naif,” ujarnya sengit. 

Saya nyaris kehabisan kata-kata. Tapi saya berusaha tetap tenang dan menjawab pernyataan-pernyataan beliau. Untungnya saya banyak membaca sebelum proses interview. Saya sangat terbantu, karena dosen tersebut terlihat sekali ingin menguji bagaimana pengetahuan saya tentang dunia Kelautan dan Perikanan akhir-akhir ini. Sekitar 50 menit saya diwawancarai, hingga akhirnya saya pun ditawari sebuah surat. Surat untuk pindah ke universitas di dalam negeri. Salah satu interviewer mengatakan, jika saya menerima surat ini, maka sudah dipastikan saya akan lolos menjadi Awardee LPDP di dalam negeri. Dua kali mereka menawarkan saya untuk pindah, dan dua kali pula saya menolak. “Terima kasih atas tawarannya, tapi saya tetap memegang impian saya,” jawab saya waktu itu. Setelah menjabat tangan ketiganya dan berbalik menuju pintu, saya langsung lunglai. 

Saya bimbang. Jangan-jangan saya bodoh karena tidak menerima tawaran tersebut. jangan-jangan harusnya saya jadi mahasiswa di Indonesia saja bukan di luar negeri. Jangan-jangan takdir ku memang berada di Indonesia. Terlalu banyak pengandaian setelah itu. Saya menyesal tidak menerima tawaran tersebut. Tapi berkat dorongan dan semangat teman-teman, saya memutuskan untuk menerima apapun hasilnya. 

Saya pun segera mencari informasi beasiswa lainnya. Karena saya yakin rezeki Allah SWT itu Maha Luas. Jika tidak dapat apa-apa di satu tempat, artinya masih ada tempat lain yang masih bisa dipanen. Saya sudah mempersiapkan skenarion terburuk. Persiapan beasiswa Australian Award, Fullbright, Chevening, dan Stuned sudah mulai saya jalani. Mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan dan persiapan untuk mengambil IELTS. 

Hingga akhirnya saya dapat tawaran untuk melakukan Rapid Assessment oleh Yayasan WWF Indonesia di Pulau Sangihe dan Talaud. Saat itu saya berpikir daripada saya memikirkan hasil LPDP, lebih baik saya melakukan hal yang bermanfaat. Saya pun berangkat. Disana, sinyal internet lumayan sulit didapatkan. Dan tanggal 10 Maret pun tiba. Sudah sejak pagi saya merasa tidak enak badan. Namun karena saya menghabiskan waktu dengan mewawancarai nelayan dan bercanda tawa dengan mereka, saya tidak merasakan apapun. Intinya saya pasrah dengan hasil apapun. Saya sampai mengunggah sebuah status tentang perasaan yang saya alami pada saat itu. Pokoknya saya pasrah pada keputusan Allah SWT. Apapun hasilnya saya akan tetap berjuang dalam bentuk yang berbeda. 

berserah pada Allah SWT. Apapun hasilnya!
Malam harinya ketika tiba di penginapan, beberapa teman sudah menanyakan hasilnya. Padahal pada saat itu saya sedang menulis blog tentang Taman Margasatwa Bitung. Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 10.17 WITA, email itu masuk. Ketika email itu masuk, saya tidak berani membukanya. 
Pukul 09.17 WIB email masuk, namun jam di Sangihe menunjukkan pukul 10.17 WITA

Saya sempat mendiamkan email tersebut hingga beberapa menit. Ketika saya scroll down ke bawah. Alhamdulillah. Saya dinyatakan LULUS. Perasaan saya waktu itu benar-benar campur aduk. Antara senang, terharu, sedih dan juga merasa beban semakin besar. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. 

Satu tahap dilewati, namun perjalanan ini masih panjaaaaaaannnngggg. Saya tidak boleh segera berpuas diri. Ini masih tahap awal. Tahap pertama untuk menjadi seorang Marine Social Scientist Indonesia masa depan. Jalannya masih berliku dan panjang. Bismillah. Semoga saya bisa tetap istiqamah. 

tapi di FB tetap menunjukkan waktu Jakarta euy. gak seru. hahah.
Saat ini saya sedang berusaha mengontak bagian administrasi Dalhousie University untuk mempelajari mekanisme pendaftaran jika IELTS terlambat masuk. Doakan!


Ditulis di Rasuna Tower 6 20 D
15:47 WIB 15 Maret 2016
Sambil mengerjakan laporan WWF tentang Rapid Assessment

Mengunjungi Hewan Endemik Sulawesi di Tandurusa

salah satu elang di Taman Margasatwa Tandurusa
Siang itu (6/3), Kak Teguh mengajak saya dan Yostan untuk berkunjung ke Bitung. Sebuah kota yang memiliki banyak kenangan bagi Kak Teguh selama menjadi observer WWF disana. Menggunakan mobil rental seharga Rp. 250.000 per hari, kami pun berangkat bertiga. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Bitung jika ditempuh dari Kota Manado. 

Bitung dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia. Terletak di ujung utara Pulau Sulawesi, Bitung merupakan kota pelabuhan yang menghidupi warganya. Disini banyak terdapat pabrik-pabrik ikan kaleng yang kemudian di eksport ke luar negeri. Ikan-ikan ini didapatkan dari kapal-kapal tangkap yang bersandar di pelabuhan Bitung. Jangan heran jika melihat banyaknya kapal yang bersandar di Pelabuhan Bitung. 

Tujuan utama kami sebenarnya adalah silaturahmi ke kolega dan seniornya kak Teguh. Tapi kami menyempatkan diri untuk singgah di sebuah taman margasatwa yang terkenal di Bitung. Taman Margasatwa Tandurusa yang terletak di kawasan Aertembaga dibangun sejak tahun 2007. Taman yang langsung menghadap Pulau Lembeh ini memiliki beberapa hewan endemik yang hanya ada di Pulau Sulawesi. 

Untuk masuk ke kawasan Taman Margasatwa pengunjung harus membayar Rp. 50.000 jika menggunakan mobil dan Rp. 10.000 untuk motor. Itu sudah termasuk biaya parkir dan biaya masuk. Jadi walaupun di dalam mobil ada 10 orang, pengunjung hanya dibebankan Rp. 50.000. cukup murah bukan? 

Pengunjung akan disuguhi beberapa kandang besi yang berisi hewan-hewan. Pertama kali memasuki kawasan Taman Margasatwa Tandurusa, kita akan melihat burung Kalkun dan Elang Bondol di dalam sangkar besar. Selain itu ada beberapa jenis burung lainnya seperti Kakaktua Raja, Kutilang, Merak, dan lain sebagainya. Sayangnya di setiap kandang tidak dilengkapi informasi yang memadai tentang hewan yang ada di dalam sangkar. Sehingga saya hanya bisa menebak-nebak jenis hewan yang ada di dalam kandang. 
Tarsiusnya lagi bobo. :)

Selain burung, Taman Margasatwa Tandurusa juga memiliki ‘artis’, yaitu Tarsius (Tarsius tersier). Hewan endemik Sulawesi ini didapuk sebagai hewan ikonik Sulawesi Utara. Beratnya yang hanya 80 gram dan panjang sekitar 10-15 cm, membuat hewan ini terlihat labil. sayangnya ketika kami datang, para Tarsius ini sedang tidur, karena hewan ini merupakan hewan Nocturnal (hewan yang aktif pada malam hari). Menurut informasi dari internet, Tarsius merupakan salah satu hewan yang paling setia atau disebut monogami. Jika pasangannya mati, maka ia tidak akan kawin lagi hingga ajal menjemputnya. So sweet.. 

Selain Tarsius, saya tertarik untuk melihat Monyet Yaki (Macaca nigra). Karena saya pernah mendengar rumor bahwa di Kampung Tomohon, monyet jenis ini dijadikan makanan. Namun saat ini monyet Yaki sudah mulai dilindungi karena populasi yang mulai merosot. Tersisa 5.000 ekor Yaki di alam bebas. Hewan yang memiliki bokong berwarna merah jambu ini dikenal sangat agresif terhadap pengunjung. Berhati-hati dengan ponsel anda jika sedang memotret, ada seorang pengunjung yang handphonenya ditarik ketika sedang berselfie dengan Yaki.

Kuskus beruang
Selain kedua hewan tersebut saya juga tertarik dengan hewan Kuskus Beruang (Ailurops ursinus). Hewan yang terlihat kalem dan tenang ini merupakan salah satu hewan endemik Sulawesi. Kuskus Sulawesi mengasuh anaknya di dalam kantong, mirip seperti Kangguru. Karena itu hewan ini masuk dalam kategori Marsupial atau mamalia yang memiliki kantung.  Tapi Kuskus ini terlihat lemah dan sayu. Hiks. Sedihnya.. 

Selain ketiga hewan tersebut menurut informasi di internet ada hewan-hewan seperti Burung Rangkong, Babi Rusa, Buaya air tawar, dan lain sebagainya. Namun ketika kami datang, tidak banyak hewan yang bisa kami temukan. Mungkin kami datang sudah terlalu sore. Tapi kami sangat puas bermain dengan salah satu Kakaktua jambul kuning di kandang. Ia dengan manja minta dielus-elus. Lucu sekali. 

Sedikit saran untuk pengelola Taman Margasatwa Tandurusa, hewannya harus lebih diurus. Ada beberapa spesies burung yang terlihat ketakutan dan monyet yang terus kelaparan.

Dibalik itu, saya berharap semoga Taman Margasatwa Tandurusa bisa menjadi sekolah alam dan media belajar bagi anak-anak agar lebih mencintai fauna endemik di Indonesia. 

Ditulis di Tahuna Hotel, Pulau Sangihe, Sulut sambil menunggu pengumuman beasiswa LPDP

22:19 WITA 10 Maret 2016
Bismillah!