Nostalgia Biru Putih di Suaka Elang Loji

Anggota Reunian Belcram
Reuni bagi sebagian orang merupakan ajang untuk silaturahmi, bercerita dan nostalgia. dan kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti acara silaturahmi bersama teman-teman alumni SMPN 01 Bojonggede. Menurut percakapan via Whatsapp, ada sekitar 13 orang yang akan menghabiskan malam minggu bersama di Camp Ground Suaka Elang Loji. Saya, Rahayu, Awank, Liska dan Januar berjanji untuk bertemu di depan sekolah sebelum kami bersama-sama berangkat menuju lokasi kamping. Menurut Rahayu, sudah ada beberapa teman yang mendirikan tenda terlebih dahulu disana. 

Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Lokasi Suaka Elang Loji ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam perjalanan. Kebetulan didalam grup kami sudah ada Rahayu yang menjadi penunjuk jalan, karena ada kemungkinan tersesat bagi orang yang pertama kali datang kesini. Jika datang dari arah Bogor, jadikan stasiun Batutulis sebagai patokan. Setelah itu akan menemui pertigaan, ambil ke arah Cijeruk. Ikuti terus jalan hingga menemukan plang hijau kecil bertuliskan Loji di sebelah kanan.

Yuk, Naik Mpok Siti Keliling Jakarta

Halte pemberhentian Balaikota
Kalian sedang berada di Jakarta, bingung menghabiskan waktu kosong dan ingin melihat-lihat situs penting di sekitar Jakarta? Mungkin Mpok Siti adalah jawaban.

Mpok Siti adalah adalah Bus Wisata City Tour Jakarta yang disediakan oleh Pemkot Jakarta. Kebetulan setelah dari LPDP untuk presentasi, jam masih menunjukkan pukul 12.40 WIB. Akhirnya saya memutuskan untuk melihat-lihat keadaan Jakarta dengan menggunakan Mpok Siti. Ini adalah kali pertama saya menjajal Mpok Siti, sehingga saya harus memastikan bahwa saya menaiki bis yang benar. 
Saya naik Mpok Siti dari halte yang terletak di Stasiun Juanda. Jika ingin naik dari halte Juanda, kalian harus menyebrang menggunakan jembatan penyebrangan. Dari jembatan penyebrangan kalian mengambil sisi kanan, di dekat pintu keluar Istiqlal akan berjejer bis tingkat dua. Disitulah Mpok Siti berada.

Menembak, Purkota dan Joyride bersama Yonif 203/AK dan Mata Garuda

abaikan wajah gue. haha
Acara menembak bareng (Sabtu, 14/08) yang diselenggarakan atas kerjasama Tentara Nasional Indonesia (TNI) Yonif 203/Arya Kemuning dengan Mata Garuda. Apa sih Mata Garuda itu? Menurut ketua Mata Garuda, kak Danang Rizki, MG adalah kumpulan para penerima beasiswa LPDP baik yang sudah menjadi alumni ataupun yang sedang berkuliah. Nah kegiatan ini merupakan salah satu item acara untuk saling merekatkan antara penerima beasiswa. Agar kita saling mengenal satu sama lain, karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu berkolaborasi dalam kebaikan. #cieee

Sekitar 100 orang berkumpul di kantor LPDP yang terletak di sebelah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Menurut jadwal kita akan berangkat pukul 11.00 WIB menggunakan bis dari pihak TNI. Saya tiba di LPDP tepat pukul 11.00 WIB setelah registrasi dan makan siang, kami pun berangkat. Dari PK-69 ada saya, boss Pudy, Raiza, Monica, Samson, dan Resty yang hadir untuk mengikuti kegiatan ini. Disini kami berkenalan dengan banyak orang yang berasal dari PK yang berbeda. Mulai dari PK-1 hingga PK-70 an keatas.

Sehari ‘Mengeliling Indonesia’ Naik Sepeda


me and my little brother
Karena masih dalam masa Lebaran 1437 H, saya Atrasina Adlina memohon maaf jika ada salah selama ini. Entah karena postingan saya atau kata-kata yang menyinggung teman-teman semua. Maafkan saya. 

Setelah liburan seminggu dan silaturahmi bersama keluarga, akhirnya saya harus kembali ke rutinitas di Jakarta. Tapi ketika kembali ke Jakarta saya mengajak adik bungsu untuk menikmati Jakarta. Kami memiliki rencana untuk ‘mengeliling Indonesia’. Awalnya dia yang masih kelas 6 SD bingung, “kok kita mau keliling Indonesia sih mbak?” ujarnya polos. Oia, namanya Maulana Abdurahim. Tapi biasa kami panggil Dede atau Maul. Anak yang paling sering disuruh-suruh dimintai tolong sama kelima kakaknya. Thank you Maul. 

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Selatan. Saya berjanji untuk menjemputnya di Stasiun Bojonggede karena saya sedang menyelesaikan tugas di Jakarta Selatan. Sehingga ini menjadi perjalanan Maulana pertama kali menggunakan angkot ke stasiun Bojonggede sendirian. Awalnya saya deg-degan apakah Maulana bisa tiba di Stasiun Bojonggede dengan selamat. Karena muka dia kayak anak ilang sih, takutnya nanti dia dibawa sama Tante-tante karena ditawarin sekotak es krim. Hehe. Tapi alhamdulillah Maulana tiba dengan selamat. Kami pun singgah di rumah makan padang untuk mengisi perut terlebih dahulu. 
Saya segera mencari rute untuk menuju Taman Mini Indonesia Indah menggunakan transportasi publik. Cara termudah menuju TMII, jika menggunakan Commuter Line, turun di Tanjung Barat. Dari sana kita bisa menggunakan Angkot KWK S 15 A yang berwarna merah. Tapi karena kita buru-buru, akhirnya kita memilih untuk naik Grabbike hingga tiba di Pintu Utama TMII. Tarif yang tertera di layar handphone adalah 11 ribu, lumayan lah untuk naik berdua. 

Setibanya di gerbang TMII kami segera membeli tiket. FYI, Maul membayar semuanya sendiri. Mulai dari makan siang, tiket kereta, tiket masuk TMII. Anak kecil yang hebat! Dia sampe sempet nawarin “Mbak, biar aku aja yang beli tiket kereta buat mbak,” ujarnya sambil mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu. Entah siapa yang kasih uang sebanyak itu buat dia.. btw, adek gue itu ketua geng di kampung gue! Ahaha.

Tiket masuk ke TMII sebenarnya Rp. 10,000, tapi karena sedang peak season, maka tiket pun naik menjadi Rp. 15.000 hingga tanggal 17 Juli 2016. Setelah masuk ke TMII, kami pun berdiskusi untuk naik sepeda atau memilih naik bis wisata. Tarif sepeda tandem Rp. 25.000 per jam, sedangkan bis wisata Rp. 10.000 per orang. Maul lebih memilih naik sepeda karena dia emang suka banget sama sepeda. Lah kalau saya? Panas-panas begini males banget naik sepeda. Tapi karena hari ini adalah hari Maul, yasudah saya mengalah dan kami menuju counter penyewaan sepeda.  
di depan rumah Gadang
Untuk meminjam sepeda hanya perlu menitipkan KTP atau SIM dan kita sudah mendapatkan sepeda tandem! Yeah! Kami pun memulai perjalanan ke Keong Mas. Pengennya sih mau nonton, tapi apalah daya harga tiketnya mahal banget. Rp. 60.000 coy! Bisa untuk makan di Warung Padang 3 kali pake rendang atau ayam. Kami pun hanya berfoto di depan Teater Keong Mas. Dan segera melanjutkan perjalanan ke Museum Olahraga Nasional yang terletak dekat dengan pintu 3. Awalnya kami kesini karena Maul suka banget sama olahraga Sepakbola. Doi pendukung setia Persib padahal dulu dia dukung Persija dan kacaunya doi tinggal di Bogor, harusnya kan dukung Persikabo. Haha. Tapi udah ak iming-imingin untuk dukung PSM ke depannya. Siapa tau mau masuk Unhas juga. #eh Balik lagi ke Museum Olahraga Nasional. Museum ini didirikan oleh Presiden Soeharto dan berdiri dengan gagah hingga saat ini. Sejarah atlet kenamaan yang dimiliki oleh Indonesia terpampang disini. Semuanya hebat-hebat! Tapi Maul kecewa karena gak ada sejarah Persib di dalam museum. Wkwk. Oia, harga tiket masuk ke dalam museum untuk orang dewasa Rp 5.000 sedangkan anak-anak dibawah 15 tahun Rp. 2.000. 
di depan Keong Mas
Segera setelahnya kami segera melanjutkan perjalanan. Titik yang kami singgahi adalah rumah adat Sumatera Selatan. Maulan belajar mengenai hewan bernama Tapir. Sepertinya hewan ini sudah jarang ditemukan di hutan karena pembalakan hutan secara liar dan masif di pulau Sumatera. Sedih rasanya jika anak-anak Indonesia tidak bisa mengenal hewan-hewan secara langsung nanti. Mereka hanya mendengar nama dan melihat gambar saja. Hiks. Sesudah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah adat Gadang milik Sumatera Barat. Rumah Datuk di kampung halaman Datuk di Sulit Air masih berupa Rumah Gadang seperti ini. Jadi kita menyempatkan diri untuk foto-foto di depan rumah Gadang. Ciiiieee, Maul udh ke Padang.. haha

Perjalanan dilanjutkan dan kami singgah di rumah adat Kalimantan Barat, Maul mencoba menaiki rumah Betang. Dia ketakutan gitu dan gak mau sampai di atas. Haha. Lucu juga. Akhirnya kami segera mencari rumah adat lain dan Sulawesi Selatan menjadi tujuan kami. Kenapa? Karena Maul sering dengar kata Makassar jadi dia pun penasaran. Setibanya di rumah adat Sulawesi Selatan ternyata ada beberapa jenis rumah yaitu rumah adat Toraja, rumah adat Gowa serta rumah ada Makassar. Sayangnya langit sudah mulai menggelap. Kami pun segera mengayuh sepeda menuju rumah adat di Nusa Tenggara Timur. Disana kami hanya foto-foto dan segera memacu sepeda menuju rumah adat Jawa. Kami memilih singgah di rumah ada Jawa Tengah untuk melihat replika Candi Borobudur dan Prambanan. Maul terlihat sangat senang dengan kegiatan hari ini. Walaupun kita sempat kehujanan dan tidak mendapatkan tempat berteduh tapi kita benar-benar senang hari ini. Sudah lama gak gila-gilaan kayak gini. Hehe. 

Semoga Maul bisa menjelajah Indonesia suatu saat. Ia bermimpi menjadi seorang pilot di masa depan. Mari doakan.. :)

Ditulis di Kantor DFW-Indonesia
19:07 WIB 15 July 2016
Sambil menyesap kopi Mandailing Tanah Karo yang wangi.

Tahap-tahap Menggapai Kampus Impian


kampus idaman. bismillah..
Tulisan ini saya buat untuk memberikan sedikit gambaran mengenai pencarian kampus idaman di luar negeri. Saya mencoba mendaftar di Dalhousie University, Canada. Kampus yang terletak di Halifax, ibukota Nova Scotia, salah satu provinsi di Kanada. Pilihan saya jatuh pada jurusan Marine Management di Faculty of Science. Ia masuk dalam 200 ranking kelas dunia. Alasannya sederhana, karena disana tidak ada pelajaran matematika. Haha. Selain itu saya tertarik dengan beberapa mata kuliahnya mengenai Manusia dan Kebudayaan (People and Culture), Marine Management Skill Development, Contemporary Issues in Ocean and Coastal Management dan Community Based Co-Management. Mata kuliah yang sudah saya temukan masalahnya selama bekerja di lapangan. Makanya saya langsung jatuh cinta sama jurusannya. hehe.

Menelusuri Dusun Pasir Madang, Tenjo

Anak-anak di Dusun Pasir Madang, Tenjo, Kab. Bogor
Matahari sudah mulai naik ke peraduannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 WIB. Telpon berdering dua kali. Nama Renita muncul di layar handphone. Ia mengingatkan untuk hadir tepat waktu. Pagi itu, kami Tim Menyapa Indonesia dari PK-69 berjanji untuk bertemu di Stasiun Sudimara. 

Apa sih Menyapa Indonesia itu? Kegiatan yang diadakan oleh Awardee beasiswa LPDP setiap angkatan. Kontribusi yang bisa diberikan langsung ke masyarakat entah dalam bentuk kegiatan pembangunan, pemeriksaan kesehatan, pembangunan rumah baca, dan lain-lain. Tapi yang harus diingat, setiap daerah memiliki masalah dan membutuhkan solusi yang berbeda. Karena itu, kami melakukan Survey ke Dusun Pasir Madang. Maka ini adalah perjalanan pertama dan menjadi tantangan bagi kami.

Persiapan Seleksi Wawancara, LGD dan Esai LPDP (2)

bingung mau masukkin foto apa. hahaha. my little family. :)
Setelah saya menjelaskan tentang proses seleksi wawancara, saya akan menjelaskan sedikit tips dan trik dalam melaksanakan seleksi Leaderless Group Discussion (LGD) dan Essay on The Spot.Kedua sesi ini memiliki porsi penilaian 40% untuk menentukan kelulusan kamu mendapatkan beasiswa LPDP. Saya akan menjelaskan tips dan trik sebelum dan pada saat hari pelaksanaan LGD. Setiap awardee mempunyai tips dan trik masing-masing, semakin banyak kalian membaca dan bertanya, semakin bagus untuk menambah pengalaman. :)

Persiapan Seleksi Wawancara, LGD dan Esai LPDP (1)


keluarga Perwakilan 62-69 Love them ;)
SELAMAT!!
Selamat buat teman-teman yang telah lulus dalam tahap seleksi berkas beasiswa LPDP. Nah, sekarang kalian harus mempersiapkan diri untuk lolos di tahap selanjutnya. Saya akan mencoba memberikan sedikit gambaran tentang seleksi kedua ini. 

Seleksi kedua terdiri dari tiga tahapan yaitu wawancara bersama reviewer LPDP, Leaderless Group Discussion (LGD) dan Essay on The Spot. Ketiga tahap ini memiliki bobot yang berbeda setiap item nya. Dari 100 %, sesi wawancara bersama reviewer memiliki nilai yang lebih tinggi daripada dua sesi lainnya. Saya akan mulai menjelaskan sesi wawancara terlebih dahulu ya.