Kabur ke Malang dari Kampung Inggris


Coban Pelangi tanpa pelangi
Judulnya udah provokatif banget. Haha. Selama saya belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris lebih tepatnya di TEST English School, ada pelarian saya selama 2 kali. Kabur dari kelas IELTS dan parahnya berhasil mengajak teman-teman untuk ikut bersama saya. Hahah. ketawasetan Tulisan ini sebagai pengakuan dosa yang indah

Malang yang terletak di tak jauh dari Kampung Inggris, Pare memiliki ratusan tempat bagus. Jaraknya hanya sekitar 70 km dari Kampung Inggris. Jadi, saya dan teman-teman kamar memutuskan untuk menyewa motor. Harganya cukup murah yaitu 50 ribu per 24 jam. Saya sudah mempunyai langganan di sebelah TEST English School. Ibunya baik. Ini faktor paling penting. Tapi tetap saja ia bertanya “Kok hari ini gak les? Lagi libur opo?” tanyanya dua kali. Saya ketawajahat tersenyum dan kemudian segera memberikan KTP tanpa menjawab lebih lanjut. 

Membayangkan Kisah Roro Jonggrang di Candi Prambanan


menyelami kisah Roro Jonggrang
Roro Jonggrang gelisah, ia mondar-mandir sedari tadi. Tangannya penuh dengan keringat. Peluh di dahinya tak bisa ia sembunyikan. Ia menerima kabar kematian ayahnya, Prabu Baka di medan pertempuran. Patih Gupala datang kepadanya tertatih-tatih. Roro tak siap menerima kabar ini. Ia gelisah. Kabar kedatangan Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya semakin santer. Kerajaan Baka yang selama ini dipimpin oleh ayahnya akan diambil alih oleh pembunuh itu.  

Tak berapa lama, hari itu pun datang. Hari penaklukan Kerajaan Baka. Bandung Bondowoso yang dikirim ayahnya, Prabu Damar Maya memasuki wilayah istana. Keadaan istana kacau balau. Bandung Bondowoso datang untuk menemui Sang Putri, pewaris kerajaan. Ia menginginkan dirinya untuk menjadi Raja Kerajaan Baka. Ia bersiap untuk mendominasi, namun betapa terkejutnya Bandung ketika melihat sang putri yang cantik jelita. Roro Jonggrang terlihat bak bidadari di mata Bandung. 

Learn Culture From a Movie (Uang Pana'i Movie)


sumber : disini

Kualleangi Tallanga Natowalia  - Bugis Proverb
“Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai” 

In some ways, traditional culture and modern culture are alike. Any culture is a system of learned and shared meanings. People learn and share things over the course of generations, and so we say they are a culture. Traditional and modern culture function similarly because both are ways of thinking, ways of relating to people and to the universe. 

A modern-culture Bugis Makassar movie, titled "Uang Pana’i" released last week. Uang Pana’i is money given by a party man to propose to the woman. The film went on to be one of the best-selling movie in this week in Indonesia. The love story of man who should be stuck in culture. For the Bugis people, marriage is not only brings together two beings under sacred promise of marriage. But rather to marry the two large families who participate bring identity and social status. 

Memoar Anak Kelautan di Unhas #happyannivUnhas60th

praktek lapang di Pulau Samalona. Saya sedang sibuk cari Kalomang
Dulu sekali, saya tidak pernah terpikir akan masuk dalam dunia kelautan. Berenang pun saya tidak bisa. Saya trauma dengan kolam renang. Ketika menginjak di bangku SMP, ketiga sepupu saya dari pihak Ayah pernah membuat saya hampir tenggelam di kolam renang. Parahnya mereka juga masih belajar berenang saat itu. Sehingga saya ditolong oleh orang dewasa. Sejak saat itu saya membenci kolam renang. Saya selalu membayangkan ada tangan terjulur yang kemudian menarik saya ke kedalaman kolam renang. 

Trauma itu tak berhenti ketika saya menginjak bangku SMA. Namun saya tertarik dengan pemandangan bawah laut yang disuguhkan oleh acara TV “Jejak Petualang”. Hostnya seorang perempuan, Riyani Djangkaru. Saat itu ia membawa pengembaraan saya jauh ke bawah laut. Ia membuat saya bisa melihat keindahan terumbu karang. Warna-warni karang bisa saya lihat berkatnya melalui layar kaca. Tak berhenti saya mengucap kata-kata tanda ketakjuban saya dengan dunia bawah laut. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan cita-cita saya sebagai Hakim dan berprofesi sebagai Ahli Kelautan. 

Tentang Magelang, Akmil, Kupat Tahu dan Parade


salah satu perform daerah Jawa Tengah
Selama ini Magelang selalu identik dengan Candi Borobudur, namun saya akan sedikit bercerita tentang Magelang dari sisi yang berbeda. Perjalanan bersama #FamtripJateng kali ini membuka mata saya bahwa ada ‘harta tersembunyi’ di Magelang. Apa itu? Mari simak cerita perjalanan ini hingga usai. 

Setelah kami menikmati bermain Arung Jeram di Sungai Progo, kami segera beristirahat di bungalow Kana, Hotel Puri Asri. Seharusnya saya dan Rinta bisa menyusuri keindahan hotel bintang lima ini, tapi sayangnya kami terlalu letih dan ketiduran. Ketika kami bangun, teman-teman sudah berkumpul di bis dengan pakaian batik formal yang terlihat mewah. Sedangkan saya? Pakai kerudung cokelat pemberian seorang sahabat dan baju batik cokelat muda milik Bunda. 

Balapan Bersama ‘Alien’ Susuri Sungai Progo


seru! jeramnya mantep!
Ternyata kami akan bertahan lebih lama di Magelang. Setelah saya pamit dengan Pak Kirno, rombongan #FamtripJateng mulai bergerak menuju Kota Magelang. Kami akan menginap di Hotel Puri Asri yang terletak di Jl. Cempaka No. 9, Kemirirejo, Magelang Tengah. Perjalanan dari Desa Candirejo menuju Hotel Puri Asri sekitar 1 jam karena di perjalanan kami bertemu dengan rombongan parade yang akan memeriahkan parade HUT 66 Jawa Tengah di Alun-alun Magelang.

Kami pun tiba di Hotel Puri Asri sekitar pukul 10.00 WIB, matahari mulai menyengat panas. Tapi kegembiraan tak bisa dihapus, karena siang ini adalah jadwal kami untuk Rafting di Sungai Progo. Ini adalah kali kedua saya rafting. Pertama kali saya melakukannya di Pangalengan, Bandung bulan Juni lalu bersama teman-teman PK-69. Dan rafting kali ini terlihat lebih menantang, karena kita akan menyusuri Sungai Progo sepanjang 9,8 km. Perjalanan ini akan ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Menurut website, harga arung jeram di Hotel Puri Asri adalah Rp. 175.000 per orang. Tapi itu tidak termasuk dengan foto-foto yang bisa kamu bayar ketika selesai bermain air. 

Fajar Mencumbu di Punthuk Setumbu

apakah kalian melihat stupa Borobudur?
Setelah perjalanan di Kabupaten Klaten kemarin, bis mulai berjalan menuju Magelang. Sebuah kota yang terletak sekitar 44,3 km dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya selalu mengingat Magelang sebagai kota kelahiran Mbah Rayi, nenek dari pihak Bunda. Terhitung 4 kali saya pernah dibawa beliau ke Karangampel, sebuah dusun yang termasuk dalam bagian Desa Tampirwetan.

Namun kali ini kami dibawa menuju Home Stay Kebon Dalem yang terletak di Desa Candirejo, Borobudur. Seperti nama daerahnya, home stay yang homey ini berlokasi sekitar 5.5 km dari Candi Borobudur. Setibanya di home stay kami segera mengambil tempat masing-masing. Rumah joglo ini memiliki 3 kamar tidur yang luas. Selain itu ada juga televisi di ruang tamu. Para pengunjung bisa menghabiskan waktu bersama di ruang tamu atau memilih lesehan di pendopo yang terletak di depan rumah. Tapi malam itu, kami segera memasuki alam mimpi karena esok hari kita akan melakukan aktivitas fisik yang kabarnya cukup melelahkan.  

Candi Plaosan, Bukti Cinta Beda Agama

kemegahan candi Plaosan Lor

Waktu telah menunjukkan pukul 14.30 WIB, ketika kami tiba di Candi Plaosan Lor. Terletak di selatan Klaten, terdapat sebuah candi yang dibangun pada saat Kerajaan Mataram Kuno menjadi penguasa. Tercatat sekitar tahun 824 M, sebuah candi yang menjadi tanda cinta didirikan. Kisah cinta antara Rakai Pikatan Mpu Manupu dengan Sri Pramodhawardhani menjadi awal mula Candi Plaosan dibangun. Sebenarnya pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, ada beberapa candi besar yang dibangun yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Namun kali ini saya akan lebih fokus membahas mengenai Candi Plaosan. 

Kami mengunjungi Candi Plaosan Lor yang terletak di Dusun Plaosan, Desa Bugisan, Kab. Klaten, Jawa Tengah. Awalnya kami berencana untuk melihat sunset dari sini, namun apa daya ada perubahan rencana. Sehingga tim #FamtripJateng memutuskan untuk menghabiskan waktu sekitar 1 jam disini. Tiket masuk ke Candi Plaosan dikenakan harga Rp. 5.000 per orang. Kita bisa menjelajah setiap bagian dari candi yang pernah tertutup debu vulkanis pada tahun 2014. Di bagian depan kompleks candi, kita akan disuguhi pemandangan dua candi besar yang berdiri gagah di tengah-tengah kompleks. Dua pasang arca Dwarapala saling berhadapan menjadi petanda masuk di pintu masuk utara dan pintu masuk selatan. 

Menyelam Sambil Bergaya di Umbul Ponggok

seger banget. 
Perjalanan kali ini disponsori oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah #FamtripJateng dalam rangka menyemarakkan #66thJawaTengah. Jadi jangan bingung jika dalam satu minggu ini saya akan banyak memposting tentang keindahan Jawa Tengah. :)

Destinasi pertama kami adalah Umbul Ponggok yang terletak di Desa Ponggok, Kab. Klaten, Jawa Tengah. Titik keberangkatan kami dimulai dari Semarang. Jarak antara Semarang ke Klaten ditempuh dalam waktu 2 jam. Kebetulan kami datang kesini pada hari Sabtu, sehingga kawasan Umbul Ponggok sangat ramai. Lokasi ini menjadi salah satu destinasi wisata andalan Jawa Tengah. Menurut guide di Umbul Ponggok, kolam ini mulai dibuka sejak tahun 2012. Namun keberadaan kolam ini menjadi hits sekitar tahun 2014. Kolam ini terletak persis di pinggir jalan Raya Desa Ponggok, sehingga akses menuju Umbul Ponggok termasuk mudah dicapai.

Kembali ke Masa Lalu di Museum Pos Bandung

diorama Tukang Pos di jaman dulu
Perjalanan saya ke Bandung bersama teman-teman PK-69 Balin Bahari dalam rangka melakukan kunjungan ke LIPI Bandung. Menumpang kereta Argo Parahayang yang berangkat pukul 08.30 WIB, saya, Raiza, Renita, Hendra dan Samson berjanji bertemu di Stasiun Gambir. 20 menit sebelum keberangkatan, ternyata kami masih belum bertemu. Sempat terbersit rasa khawatir karena ketinggalan kereta, tapi untungnya kami tak terlambat. Perjalanan menuju Bandung ditempuh dalam waktu 3 jam dan setibanya di Stasiun Bandung, kami dijemput oleh Ayahnya Raiza dan menuju Rumah Makan Ampera untuk santap siang.

Segera setelahnya kami menuju LIPI Bandung yang terletak di daerah Cisitu bertemu dengan Bang Furqon dan Kang Eril disana. Setelah itu langsung bertemu dengan pemilik paten Simbat, system pencadangan air. Kami memiliki pertanyaan mengenai skema pencadangan air yang diperkenalkan oleh LIPI Bandung. Belajar langsung kepada ahlinya, apakah sistem pencadangan air ini bisa dilakukan di berbagai lokasi. Setelah berdiskusi panjang, kami pun pamit dan menyusun strategi lanjutan dari pertemuan ini.

Nostalgia Biru Putih di Suaka Elang Loji

Anggota Reunian Belcram
Reuni bagi sebagian orang merupakan ajang untuk silaturahmi, bercerita dan nostalgia. dan kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti acara silaturahmi bersama teman-teman alumni SMPN 01 Bojonggede. Menurut percakapan via Whatsapp, ada sekitar 13 orang yang akan menghabiskan malam minggu bersama di Camp Ground Suaka Elang Loji. Saya, Rahayu, Awank, Liska dan Januar berjanji untuk bertemu di depan sekolah sebelum kami bersama-sama berangkat menuju lokasi kamping. Menurut Rahayu, sudah ada beberapa teman yang mendirikan tenda terlebih dahulu disana. 

Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Lokasi Suaka Elang Loji ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam perjalanan. Kebetulan didalam grup kami sudah ada Rahayu yang menjadi penunjuk jalan, karena ada kemungkinan tersesat bagi orang yang pertama kali datang kesini. Jika datang dari arah Bogor, jadikan stasiun Batutulis sebagai patokan. Setelah itu akan menemui pertigaan, ambil ke arah Cijeruk. Ikuti terus jalan hingga menemukan plang hijau kecil bertuliskan Loji di sebelah kanan.